ANALISIS AWAM KERUSAKAN LINGKUNGAN ATAS KONTRAK KARYA PT. SORIK MAS MINING DI BLOK B MANDAILING NATAL SUMATERA UTARA

(by : Batang Pungkut Green Conservation)
Tulisan ini di beri judul Analisis Awam Kerusakan Lingkungan Atas Kontrak Karya PT. Sorik Mas Mining di Blok B (Kecamatan Ulupungkut, Kecamatan Kotanopan, Kecamatan Pakantan dan kecamatan Muarasipongi) Kabupatean Mandailing Natal Sumatera Utara karena kami hanyalah rakyat biasa yang tidak pernah duduk di bangku kuliah apalagi dalam spesialisasi disiplin ilmu pengetahuan lingkungan, pertambangan, kehutanan dan pertanahan, tapi analisis ini kami tulis berdasarkan pengamatan yang objektif dengan segala kemampuan pengetahuan yang ada pada kami, karena “seandainya” PT. Sorik Mas Mining akan membawa kesejahteraan dan kemakmuran maka kami adalah bagian dari kesejahteraan dan kemakmuran itu. Jika penambangan PT. Sorik Mas Mining akan menyebabkan kerusakan lingkungan, pencemaran dan bencana industri serta konflik perebutan lahan maka kami juga ada di dalamnya.
Kami juga terlebih dulu mohon maaf jika tulisan ini susah untuk di pahami, tidak sistematis serta tidak memenuhi kerangka metode ilmiah yang ada sebagai mana seharusnya, namun kami mohon perhatian karena tulisan ini di tulis oleh bagian dari masyarakat yang resah atas aktivitas PT. Sorik Mas Mining di Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara.
Gunung Kulabu (Lihat Peta) bukanlah gunung vulkanik namun nama sebuah dataran tinggi yang terdapat di Kecamatan Ulupungkut kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara, dari barat Gunung Kulabu ini mengalir sungai Batang Pungkut dan dari sisi timurnya mengalir Batang Gadis selanjutnya kedua sungai bertemu di Muara Pungkut Kotanopan dan dikenal dengan nama Sungai BATANG GADIS, sungai inilah yang membelah Mandailing Natal dan menjadi sumber kehidupan dan penghidupan masyarakat sepanjang yang di laluinya. Dengan demikian Gunung Kulabu adalah daerah tangkapan air untuk sungai Batang Pungkut dan Batang Gadis.
Peta 1: Gunung Kulabu dengan Sungai Batang Pungkut di sebelah barat dan Sungai Batang Gadis di sebelah timur. Daerah Gunung Kulabu kira-kira yang dilingkari warna merah putus-putus. Perhatikan kondisi Gunung yang diselimuti awan kelabu. Sumber citra: googleearth; 31 Agustus 2010. 

peta 2: area kontrak karya Sorik Mas Mining di daerah Gunung Kulabu. Area Gunung Kulabu kira-kira adalah yang dilingkari warna hijau putus2. Sumber: Dokumen C

Kalau kita cermati Peta 2 ini maka sebenarnya jika PT Sorik Mas Mining melakukan penambangan maka tidak ada lagi kehidupan di Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara. Karena selain akan merusak Gunung Kulabu sebagai daerah tangkapan air serta aliran sungai Batang Pungkut dan Batang Gadis PT. Sorik Mas Mining juga juga melakukan penambangan di daerah Mandagang yang merupakan daerah tangkapan air bagi Sungai yang berasal dari Desa Manambin dan Sungai yang berada di Patahajang. Selanjutnya ke arah utara, mereka juga melakukan eksplorasi di Pagar Gunung yang merupakan area tangkapan air bagi Sungai yang bermuara di Singengu kecamatan Kotanopan. Yang akhirnya semua sungai ini akan mengalir bersama dengan nama SUNGAI BATANG GADIS, Sungai BATANG GADIS yang membelah Kabupaten Mandailing Natal sebelum sampai di Singkuang Natal dan mengalir menuju Pantai Barat Pulau Sumatera.

Kehidupan Masyarakat Mandailing Natal yang religius membuat krakter masyarakat untuk selalui hidup dekat dengan air, oleh karena itu hampir setiap desa di Mandailing Natal letaknya mengikuti aliran sungai, Sungai BATANG GADIS di pakai untuk sumber kehidupan dan penghidupan rakyat Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara seperti : memasak, minum, mencuci, irigasi pertanian dan keperluan ibadah.
Berdasarkan peta yang dikeluarkan oleh Balai Taman Nasional Batang Gadis (Lihat peta 3) daerah kontark karya PT. Sorik Mas Mining di blok B tersebut adalah daerah tanggakapan air bagi sungai-sungai yang mengalir di kabupaten Mandailing Natal, jika ini terjadi akan mengakibatkan bencana kekeringan, banjir dan longsor jika hujan. Selain itu 13 (tiga belas desa) serta lahan pertanian dan perkebunan rakyat juga masuk kedalam peta kontrak karya PT Sorik Mas Mining. Entah bagaimana dulu prosesnya sehingga izin PT. Sorik Mas Mining bisa keluar.
Bencana selanjutnya adalah zat-zat yang digunakan dan dihasilkan dari proses pertambangan seperti limbah batuan dan tailing, emisi beracun, timbal, arsen, merkuri dan cyanida yang pasti digunakan dalam pertambangan emas yang mengancam manusia dan lingkungan hidup di sekitarnya. Perlu juga di sampaikan melalui tulisan ini bahwa masyarakat Mandailing Natal adalah masyarakat yang memiliki kearifan lokal sampai hari ini masih bertahan dan sudah diwariskan secara turun-temurun, sebagai cermin kecintaan kepada lingkungan hidup, seperti harangan larangan yaitu kawasan hutan tertentu yang tidak boleh dibuka sebagai lahan perkebunan dan pertanian, lubuk larangan yaitu daerah sungai dengan panjang tertentu yang ditetapkan secara musyarah desa untuk tidak mengambil ikan sembarangan atau sebelum waktu yang telah ditentukan. kewajiban kepada kedua mempelai yang baru menikah untuk menanam pohon. Tanah adat yang hanya boleh di tanami dengan tanaman-tanaman hultikultura secara bebas bergantian untuk menghindari penggarapan dan pembukaan hutan baru untuk di jadikan sebagai lahan perkebunan dan pertanian. Hal ini menggambarkan kepada kita semua bahwa masyarakat mandailing memiliki aturan-aturan untuk mengurangangi luas hutan dan membuktikan kecintaan masyarakat Mandailing Natal terhadap lingkungan hidup. Melihat bukti-bukti kearifan lokal tersebut di atas tentu saja masyarakat Mandailing Natal menolak ke hadiran Pertambangan apalagi tambang terbuka seperti PT. Sorik Mas Mining. 

Kami juga perlu mengkutip data yang dirilis oleh LSM Bitra Indonesia pada bulan Juli tahun 2010, bahwa nilai ekonomi yang akan diperoleh dari model industri pertambangan ekstraktif skala besar berjangka pendek di area Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) hanyalah bernilai sebesar Rp. 121,3 milyar per tahun. Sementara itu, akumulasi keuntungan jasa lingkungan dengan model berkelanjutan, jangka panjang, dan lintas generasi yang melingkupi sektor seperti pemanfaat hasil hutan non-kayu (karet, rotan, kopi, kayu manis, sarang burung walet, aren dan durian), potensi ekowisata, daerah aliran sungai, simpanan karbon, dan keanekaragaman hayati, didapatkan angka sebesar Rp. 265,5 milyar per tahun, atau lebih dari dua kali lipat dari insentif yang diperoleh melalui industri ekstraktif seperti pertambangan emas.
Kalau nilai ekonomi hutan di Madina yang juga berfungsi sebagai pencegah banjir, erosi, dan tanah longsor dimasukkan, maka secara total dalam jangka waktu 25 tahun Pemkab Madina menghemat sebanyak Rp. 225 milyar. Karena apabila hutan sudah dibabat, maka otomatis Pemkab harus mengeluarkan biaya untuk pemulihan bencana ini. Di bidang tenaga kerja, Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Gadis menjamin ketersediaan pasokan air untuk berbagai sektor kehidupan bagi 413.000 jiwa yang hidup di 386 desa pada 23 kecamatan di Kabupaten Madina.

Demikian tulisan ini kami buat dengan pengetahuan tentang lingkungan, tanah, hutan dan pertambangan yang tidak seberapa. Kami memohon dukungan serta mencoba mengetuk pintu hati siapa saja, dimana saja dan dengan latar belakang apa saja agar pemengang mandat kekuasaan dan pemilik kebijakan di Negeri ini kembali meninjau ulang dan membatalkan Kontrak karya PT. Sorik Mas Mining serta tidak menerbitkan izin kepada Mining-Mining yang lain sampai kapanpun.
Terima kasih…

sumber: facebook

Pos ini dipublikasikan di opini dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s