Mahasiswa Tuntut PT SM Hengkang dari Madina

Mahasiswa Tuntut PT SM Hengkang dari Madina Cetak E-mail
Rabu, 20 Oktober 2010
MADINA-METRO; Sekitar 50-an massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli (AMP2) Mandailing Natal (Madina) dan Satuan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Satma PP) Madina, menggelar unjuk rasa di perusahaan tambang emas, PT Sorikmas Mining (SM) di Desa Pidoli, Kecamatan Panyabungan, Selasa (19/10). Massa menuntut PT SM hengkang dan menghentikan operasi tambang emasnya di Madina.

 

(f:metro/Ridwan Lubis)

Massa AMP2 dan Satma PP Madina berunjuk rasa di kantor PT SM, Selasa (19/10).

Massa menilai selama ini keberadaan PT SM di Madina tidak pernah membawa keuntungan bagi masyarakat, bahkan yang terjadi adalah konflik dan perpecahan di tengah-tengah masyarakat.Dalam orasinya, AMP2 dan Satma PP Madina menegaskan bahwa perusahaan pertambangan emas asing, yakni PT SM yang berada di wilayah Madina merupakan salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia, bahkan masuk dalam kancah internasional dan sudah beroperasi sejak 12 tahun lalu. Maka seharusnya PT SM memberikan angin segar dan kesejahteraan bagi masyarakat.

“Namun kenyataannya, yang terjadi hari ini, seperti konflik sosial, pecah belah yang dilakukan terhadap masyarakat yang terjadi tak ubahnya seperti penjajah. Untuk itu kami meminta kepada PT SM untuk segera hengkang dari bumi Madina dan menghentikan operasinya karena tak bermanfaat bagi masyarakat,” tegas Koordinator Aksi, Tan Gozali Nasution, didampingi Koordinator Lapangan Khoirul Nasri dan Iswadi Batubara.

Menanggapi hal tersebut, Pimpinan PT SM yang ditemui METRO melalui Staf Humas, Leohara Situmeang, Selasa (19/10), di kantornya menjelaskan, PT SM selalu merespon apa saja yang disampaikan masyarakat termasuk dalam hal tuntutan mahasiswa yang menamakan diri dari AMP2 Madina serta Satma PP Madina.

Menurutnya, PT SM menjunjung tinggi nilai demokrasi dan Undang-Undang (UU) yang mengatur setiap warga negara berhak menyampaikan aspirasinya, dan PT SM juga berterima kasih atas segala saran dan masukan yang diberikan masyarakat Madina atas kinerja PT SM selama ini.

Namun, terkait tuntutan AMP2 dan Satma PP Madina, Leohara mengaku, dirinya selaku perwakilan PT SM tidak bisa membuat suatu kebijakan dan setiap tuntutan dan permintaan apa saja harus dikoordinasikan dengan Pimpinan PT SM di Jakarta.

“Kami sangat berterima kasih atas apa yang disampaikan oleh rekan-rekan mahasiswa dan pemuda. Dalam hal ini kami menerima masukan dari masyarakat dan ini merupakan suatu masukan untuk memperbaiki kinerja kami lebih bagus lagi. Dan persoalan tuntutan mahasiswa yang menyebutkan kalau PT SM harus hengkang itu bukan proses yang mudah dan tuntutan ini akan saya sampaikan kepada atasan saya di Jakarta. Sebab, PT SM juga bekerja sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku di negara ini dan PT SM juga memiliki Social Responcibility (SR) atau tanggung jawab dan kewajiban sosial,” sebut Leohara. (wan)

sumber: metrosiantar

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s