Mengapa emas di Batang Gadis Keluar pada Saat Aleon?

Dalam bukunya yang sangat inspiratif berjudul Tulila: Muzik Bujukan Mandailing (2007), Edi Nasution menjelaskan bahwa “pada waktu-waktu tertentu di Aek Batang Gadis sampai sekarang banyak penduduk yang manggore (mendulang emas) sebagai mata pencaharian tambahan terutama pada masa paceklik, yaitu sewaktu harga kopi, kayu manis, cengkeh dan karet turun di pasaran,” (hlm. 14). Bagi saya, statement yang (tampaknya) didasarkan pada studi empiris ini sangat menarik untuk ditelaah lebih jauh. Mengapa emas di Batang Gadis muncul pada saat paceklik?

Langkah pertama yang mau tak mau harus dilakukan adalah mencoba mencari batasan apa itu paceklik dalam konteks Mandailing. Paceklik, atau dalam Bahasa Mandailing disebut aleon berdasarkan apa yang dicatat oleh Edi Nasution di atas, terjadi pada masa turunnya harga hasil bumi yang ada di Mandailing Natal. Seperti kita lihat di atas, Edi menyebutkan kopi, kayu manis, cengkeh, dan karet.

Apa yang disebutkan oleh Edi Nasution di atas tidaklah salah, sebagaimana tidak tertutup kemungkinan adanya kebenaran yang lain. Maksud saya, dari keempat hasil bumi yang disebutkan oleh Edi di atas, tiga diantaranya adalah tanaman yang membutuhkan waktu lama untuk panen (kopi, kayu manis, dan cengkeh). Sementara satu tanaman lagi, karet, adalah tanaman yang di Mandailing (terutama di Kecamatan Kotanopan dan Ulupungkut) dipanen oleh petani setiap minggu. Besar kemungkinan sebuah masa aleon ditandai oleh masyarakat melalui siklus panen tanaman karet ini. Terutama, karena menderes karet adalah pekerjaan sehari-hari masyarakat. Artinya, kalau pekerjaan menderes karet ini tidak berjalan, maka alamat dapur mereka akan terkena imbas langsung.

Sementara untuk tanaman kayu manis, tampaknya lebih banyak berfungsi sebagai “tabungan” bagi orang Mandailing. Tabungan di sini maksudnya kayu manis dipanen kalau si pemilik benar-benar membutuhkan uang ekstra, katakan saja ada anggota keluarga yang sakit dan butuh dana untuk berobat. Hal ini bisa terjadi karena kayu manis termasuk tanaman yang berumur lama, bisa sampai berpuluh-puluh tahun.

Kalau asumsi di atas benar, bahwa masyarakat Mandailing menarik palka aleon dari siklus tanaman karet, maka pertanyaan selanjutnya adalah pada waktu kapan terjadi paceklik pada tanaman karet?  Tanaman karet juga termasuk tanaman berumur panjang, apalagi karet di Mandailing, terutama di Kecamatan Kotanopan, Ulupungkut, dan sekitarnya yang merupakan perkebunan rakyat. Secara substansial tidak ada masa paceklik dalam tanaman karet kebun rakyat ini. Karet dapat disadap sepanjang tahun.

Satu-satunya yang menjadi permasalahan petani karet di Mandailing adalah musim penghujan. Karena pada musim ini seringkali para petani karet tidak dapat memanen getah mereka. Hal ini terjadi karena begitu disadap, dan tiba-tiba hujan turun, maka hanyutlah semua getah karet tersebut sebelum sempat membeku atau dipanen. Atau kalau maraek batang (batang-batang karet dalam kondisi basah), maka ia tidak bisa disadap karena getah tidak akan mengalir dengan sempurna ke tempat penampungan. Atau dengan kata lain, getah pohon karet yang disadap dalam kondisi batang yang basah akan terbuang percuma.

Jika kedua alur logika di atas dapat diterima, maka kesimpulan yang bisa diambil adalah: aleon pada masyarakat Mandailing terjadi pada saat karet tidak bisa disadap, yaitu pada saat hujan turun. Dengan demikian, preposisi ini menjadi titik tolak untuk menelaah mengapa emas di Batang Gadis muncul pada saat aleon. Hal ini sangat penting karena selama berpuluh-puluh tahun, atau bahkan beratus tahun mungin, tradisi manggore di Sungai Batang Gadis sudah hidup. Masyarakat sudah menjadikannya sebagai salah satu penopang bagi ekonomi mereka ketika pohon-pohon karet tidak bisa disadap.

Untuk pemahaman lebih lanjut maka kita perlu mengetahui jenis cebakan emas. Secara umum, ada dua jenis cebakan emas, yaitu in situ (yang masih berada di tempat aslinya) dan ex situ (material emas yang sudah tertransportasi oleh agen geomorfologi). Untuk model cebakan in situ ini, salah satu jenisnya adalah seperti yang terdapat di sekitar Gunung Kulabu. Berdasarkan laporan Sihayo Gold Limited (SGL), cebakan emas di Gunung Kulabu adalah tipe Ephitermal Vein System (Sihayo Site Visit, 7th/8th June, 2010). Sementara itu, dari sebuah laporan tahun 2008 Oropa Limited (nama lama dari SGL) kita dapat mengetahui seperti apa model Epithermal Vein System, yang secara skalatis ditampilkan seperti yang ada dalam gambar 1 berikut ini.

gambar 1: model cebakan epithermal vein system (sumber: Opora Limited; 2008)

Jadi cebakan yang ada di Gunung Kulabu, berdasarkan informasi dari dua laporan teknis tersebut, kira-kira seperti gambar di atas. Salah satu zona paling kaya emas, Bonanza Zone, diperkirakan berada jauh di bawah permukaan tanah, atau sekitar pada kedalaman 500 meter alias setengah kilometer dari permukaan.

Tipe kedua, cebakan emas ex situ, adalah material emas yang sudah tertransportasi. Katakanlah ada cebakan emas di hulu Daerah Aliran Sungai Batang Gadis, maka proses geomorfologi seperti pelapukan dan erosi, akan menyebabkan batuan pembawa emas tersebut terlapukkan dan kemudian material-material yang sudah tidak kompak tersebut terangkut ke hilir bersama aliran sungai. Kadang-kadang material ini terendapkan pada bagian-bagian tertentu di tubuh sungai, ada yang terbawa jauh ke arah muara, ada juga material yang berada di hulu, atau di sekitar pertengahan sungai. Massa mereka menentukan nasib mereka sendiri, dimana mereka akan mengendap.

Kembali ke permasalahan aleon seperti yang menjadi pembuka tulisan ini, maka ketika hujan turun dan pohon-pohon karet di Mandailing tidak bisa disadap, maka pada saat itu pulalah debit sungai sedikit naik. Dengan naiknya debit sungai, maka ia memiliki tenaga ekstra untuk mengangkut kembali material sedimen yang mengandung emas. Jenisnya variatif, ada yang sama sekali baru dibawa dari hulu, tetapi bisa juga endapan lama yang mengalami transportasi ulang (retransported). Dan pada saat inilah para panggore yang sudah sangat paham dengan siklus ini memulai aksi mereka. Ketika air sungai kembali surut, maka itu adalah saat yang tepat bagi mereka untuk sejenak meninggalkan batang-batang karet dan mencari penghidupan di Batang Gadis.

Kira-kira itulah yang dapat saya tafsirkan dari fakta empiris emas keluar pada saat aleon di Sungai Batang Gadis. Benar tidaknya, saya tidak tahu, tergantung anda yang menimbang-nimbang apakah argumentasi-argumentasi yang saya dedahkan di atas masuk akal atau tidak.

Dan, apa yang mau dilakukan PT Sorikmas Mining adalah mereka mau mengambil langsung emas in situ dari sumbernya di sekitar Gunung Kulabu. Saat ini mungkin masih dalam tahap eksplorasi, akan tetapi tentu saja tujuan akhirnya adalah itu. Atau dengan kata lain, kalau mereka melakukan itu, sama artinya dengan memutus siklus manggore pada musim paceklik yang sudah berlangsung di Mandailing sejak puluhan atau bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu. Terserah anda menentukan sikap sekarang, apakah akan membiarkannya ataukah kita rapatkan barisan mengusir mereka dari tanah Mandailing. Dimana anda berdiri kawan?

Pos ini dipublikasikan di opini dan tag , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Mengapa emas di Batang Gadis Keluar pada Saat Aleon?

  1. bosman berkata:

    dua komen in saya kutip dari note di FB:
    #
    Boedi Batoebara
    Sepertinya musim kemarau jg bisa jd masa paceklik bagi penyadap karet. Kata “maraek batang” di musim penghujan “sama halnya” dgn “koring batang” di musim kemarau. Pohon karet tidak akan menghasilkan getah maksimal di saat kekurangan air seb…agai sumber hidup. Mungkin di saat itu jg lah para panggore dgn mudah menggapai “campuran tanah” di sungai batang gadis yg sedang surut. 🙂

    Apapun cerita kearifan lokal masyarakat sekitar sungai Batang gadis perlu dimaknai bahwa alam termasuk rura/sungai, tor/gunung dan hamparan dataran yg subur sangat berarti untuk mengusir “kapitalisme serakah” di bumi Mandailing. 🙂

    Tambang (contoh freeport di papua dll) terbukti belum mampu mensejahterakan penduduk lokal.See more
    08 November at 08:47 · LikeUnlike
    #
    Edi Nasution Salah satu repertoar musik tradisi orang Mandailing bernama “Gondang Mangido Udan” (musik meminta hujan turun). Godang (musik) ini dapat dimainkan dengan ensambel Gondang Boru atau Gordang Sambilan), sementara upacara (ritus)nya dinamakan Pasusur Begu atau Paturun Si Baso. Ritus tersebut dilaksanakan ketika terjadi musim kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan sehingga aktivitas pertanian masyarakat terganggu dan akhirnya timbullah Aleon yang membuat hidup mereka menderita karena kekuarangan bahan pangan.
    08 November at 13:28

  2. Hafis Nasution berkata:

    Aleon penyebabnya adalah kemiskinan material seandainya para orang kaya biar musim kemaraupun tidak akan aleon dan masih santai santai saja menjalani hidupnya berbeda jauh dengan si miskin contohnya simiskin dalam tiga hari saja hujan turun terus persediaan makannya sudah habis maka masuk lah dia haleon berbeda jauh dengan si kaya biar bagaimanapun kondisi hujan atau panas dia tidak bergeming prsediaan makanan tetap saja tersedia.

  3. medysept91 berkata:

    Mungkin penambangan emas secara tradisional seperti di huta julu Huta Bargot bisa jadi solusi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s