Tekad Warga Tetap Blokir Jalan

Ahad, 14 November 2010 | 01:37:26
Panyabungan, BN-Janji tinggal janji. PT Sorikmas Mining mengacuhkan warga yang bermukim di Desa Tangga Bosi, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Kesal tuntutan tak digubris, akhirnya warga pun terpaksa memblokir jalan masuk ke perusahaan pertambangan itu. Imbasnya, sejumlah logistik makanan karyawan perusahaan tersebut tidak bisa diantar. Sejak kemarin, seluruh karyawan terancam kelaparan.
Hingga kemarin malam, informasi di lapangan diperoleh BN, ratusan warga Tangga Bosi, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal, masih memblokir satu-satunya jalan menuju tambang emas PT Sorik Mas Mining. “Lebih baik kami memblokir jalan, daripada kami terus dirugikan,” singkat warga kepada BN.

Memang, dulunya PT Sorikmas Mining berjanji akan mengganti rugi lahan dan kompensasi atas dampak pertambangan tersebut. Namun janji yang ditunggu-tunggu itu tak jua membuahkan hasil. Pemblokiran jalan tepatnya berada di depan Balai Desa Tangga Bosi Dua. Warga memblokir jalan dengan cara duduk dan tidur-tiduran di badan jalan sehingga tidak ada kendaraan yang bisa melintas.

Seperti diketahui, jalan yang diblokir warga tersebut adalah satu-satunya akses menuju sejumlah barak milik perusahaan PT. Sorikmas Mining yang berada di ujung desa. Parahnya lagi, kata warga, rencananya PT Sorikmas Mining akan dijadikan lokasi pertambangan emas terbuka terbesar kedua di Indonesia setelah Freeport.

Rencananya, tahun 2011 mendatang perusahaan tersebut akan melakukan eksploitasi tambang emas seluas 11 ribu hektar dalam kawasan tanah ulayat desa yang di dalamnya terdapat kebun warga.

Warga juga menuntut kompensasi atas dampak yang akan ditimbulkan pertambangan tersebut karena lokasi desa Tangga Bosi hanya berjarak beberapa kilometer dari lokasi tambang.

Kompensasi yang dituntut warga adalah dana kesehatan, pendidikan, lapangan pekerjaan dan kesejahteraan ekonomi. Sejumlah logistik harian yang akan diangkut ke lokasi pertambangan terpaksa pulang kembali karena tidak diizinkan warga melintas, termasuk bahan makanan karyawan dan peralatan perusahaan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pihak perusahaan yang bersedia menemui warga, sehingga warga tetap bertahan melakukan pemblokiran.

Warga mengancam akan melakukan pemblokiran hingga ada perundingan mengenai ganti rugi dan kompensasi perusahaan tambang kepada masyarakat sekitar.
Sementara itu, beberapa bulan lalu Komisi D DPRDSU secara tegas mencurigai aktivitas PT Sorikmas Mining sebuah perusahaan pertambangan emas yang beroperasi di Batangtoru Kabupaten Mandailing Natal.

Berdasarkan laporan yang diterima oleh komisi D DPRDSU bahwa kegiatan mengangkut batu-batuan yang mengandung emas ke luar Provinsi Sumatera Utara adalah kegiatan eksploitasi, karena dilakukan secara terus menerus.

Sedangkan Ungtungta Kaban kepala dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumatera Utara mengatakan, bahwa tindakan PT Sorikmas Mining yang membawa batuan-batuan yang mengandung emas adalah upaya untuk melakukan tes laboratorium di Padang Sumatera Barat.

PT Sorikmas Mining merencanakan eksploitasi tambang emas dan mineral pengikutnya seluas 66.200 ha di daerah Batangtoru. Disebutkan lahan pertambangan ini mempunyai potensi kandungan emas sebanyak lebih kurang 1 juta ton.

Sekelumit PT Sorikmas Mining
Sorikmas Mining (SMM) adalah sebuah perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang bergerak di bidang usaha pertambangan emas dan mineral pengikut lainnya. Sebanyak 25 persen sahamnya dimiliki PT Aneka Tambang, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang pertambangan. Sedangkan 75 persen lagi dimiliki Aberfoyle Pungkut Investment Pte Ltd. Perusahaan ini berada di Singapura, namun sahamnya dimiliki Aberfoyle Resources Limited/Western Metal Copper Limited dari Australia. SMM merupakan perusahaan pemegang kontrak karya generasi VII tertanggal 19 Februari 1998. Awalnya, wilayah kontrak karya SMM di Kabupaten Madina seluas 201.600 hektar. Namun setelah dua kali diciutkan, luas konsesinya kini menjadi 66.200 hektar atau tinggal 32,82 persen saja. Proses eksplorasi dimulai sejak 19 Februari 1999. Dari luas total saat ini, ternyata sebagian besar justru tumpang tindih dengan kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Ini terjadi karena pada 29 April 2004 Menteri Kehutanan, saat dijabat Muhammad Prakosa, menetapkan pembentukan TNBG dengan luas 108 ribu ha melalui putusan SK No 126/Menhut-II/2004. Batas tetapnya akan ditentukan setelah diadakan penetapan batas di lapangan. (EMAWATI/Int)

sumber: http://bongkarnews.com/?open=view&newsid=887

Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s