Masyarakat Ulupungkut Tidak Mungkin Bergerak Sendiri

“Bahwa kami adalah mayoritas adalah petani yang memanfaatkan lahan sebagai satu-satunya sumber penghidupan kami”—(poin ke-6, dokumen penolakan warga Kecamatan Ulupungkut terhadap PT Sorikmas Mining)

***

Melalui Facebook saya kembali mendapatkan informasi bahwa pada tanggal 9 Maret yang lalu masyarakat yang berasal dari 13 Desa di Kecamatan Ulupungkut, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), mengadakan pertemuan di ibukota Kecamatan, Hutanagodang. Pertemuan tersebut menghasilkan suara yang bulat dari seluruh Desa di Kecamatan Ulupungkut yang intinya adalah: penolakan terhadap keberadaan PT Sorikmas Mining (SM) di wilayah Kecamatan Ulupungkut, karena lebih merugikan masyarakat yang mayoritas adalah petani. Dokumen tersebut selanjutnya menyatakan bahwa warga siap melakukan pengusiran apabila PT SM tetap memaksakan diri masuk dan melakukan aktivitas di wilayah Kecamatan Ulupungkut.

Saya gemetar membaca surat penolakan tersebut. Terutama pada poin ke-6 yang berbunyi, “Bahwa kami adalah mayoritas adalah petani yang memanfaatkan lahan sebagai satu-satunya sumber penghidupan kami”. Di satu sisi saya bangga karena masyarakat Kecamatan Ulupungkut yang mayoritas memang merupakan petani sawah dan penyadap karet, secara lantang menyuarakan keberatan yang dialaminya dan langsung menohok ke pusat sasaran, yaitu mendesak pemerintah Republik Indonesia agar membatalkan Kontrak Karya  (KK) PT SM.

Akan tetapi, di sisi lain saya juga ketakutan mencermati berbagai informasi yang saya terima perihal kondisi di lapangan. Dalam hal ini, tulisan ini hanya membatasi diri untuk mendiskusikan areal KK PT SM di wilayah selatan di sekitar Gunung Kulabu, karena untuk blok KK mereka yang di sebelah utara di sekitar Desa Hutabargot, tampaknya PT SM sudah melaju sangat kencang dan masyarakat sekitar juga sudah terlanjur terfragmentasi. Bukan berarti tulisan ini menganggap daerah di sekitar Hutabargot tidak penting untuk diperbincangkan, tetapi penulis sendiri lebih banyak memahami daerah di blok selatan, darimana penulis berasal. Ketakutan saya adalah, mengapa hanya masyarakat Kecamatan Ulupungkut yang paling sering mengeluarkan pernyataan sikap dan aktif bergerak di lapangan? Ada apa dengan masyarakat dari Kecamatan lain?

Hal ini menjadi penting bagi saya karena, berdasarkan informasi yang saya terima, PT SM membuka base-camp di Desa Pakantan. Desa Pakantan, bagi orang yang memahami kondisi di sekitar Sungai Batang Pungkut dan Sungai Batang Gadis, memang tidak terletak di Kecamatan Ulupungkut. Mengapa Warga Desa Pakantan memperbolehkan PT SM masuk ke wilayahnya? Apakah kawan-kawan di Desa Pakantan tidak memiliki kesepahaman yang sama dengan warga Desa-desa di Kecamatan Ulupungkut?

Bagaimana pula dengan Desa-desa yang lain yang secara morfologis memiliki kepentingan terhadap Sungai Batang Gadis dan Sungai Batang Pungkut? Sebut saja, Desa Tamiang, Hutapungkut, Singengu, Muarasoro, Manambin, dan Pasar Kotanopan? Terutama Desa Manambin, kalau PT SM masuk ke wilayah Tor Mandagang, maka tak ada cerita, Sungai yang mengalir ke Desa Manambin pasti akan terdampak. Sementara Desa-desa di hilir, seperti Muarasipongi, Tamiang, Singengu, Muarasoro, Pasar Kotanopan, dan Hutapungkut, kalau PT SM menambang di wilayah sekitar Gunung Kulabu, pasti juga akan terkena dampak. Karena Gunung Kulabu adalah pusat dari daerah tangkapan air bagi Sungai Batang Gadis dan Sungai Batang Pungkut.

Secara logika sederhana, tanpa perlu mencermati peta, dengan masuknya PT SM dari Desa Pakantan, maka dapat disimpulkan bahwa target utama mereka untuk blok selatan memang berada pada sekitar wilayah Gunung Kulabu. Dengan demikian, desa-desa di hilir seperti yang saya sebutkan di atas, pasti akan merasakan dampak kehadiran PT SM ini kelak di kemudian hari.

Maka sangat wajarlah kiranya, ke depan warga desa-desa yang saya sebutkan di atas juga sebaiknya aktif ikut begabung dalam gerakan penolakan/pengusiran PT SM dari Kabupaten Mandailing Natal. Dan bagi warga dari Kecamatan Ulupungkut, adalah tugas kita semua untuk terus membuka komunikasi dan membangun kesepahaman bersama dengan kawan-kawan kita dari Kecamatan yang lain.

Sebelum semuanya terlambat, maka konsolidasi yang lebih luas di ataslah mungkin yang perlu menjadi salah satu agenda bersama kita. Sebab, dalam banyak kasus seperti ini, salah satu kelemahan mendasar adalah ketika warga terfragmentasi dan tidak menunjukkan sebuah kesepahaman bersama. Opini yan terbelah akan memudahkan PT SM mengkooptasi salah satu kelompok, untuk selanjutnya (gampang ditebak) menerapkan strategi yang tampaknya mereka warisi dari penjajah Belanda, yaitu: politik adu domba.

Salam dari Leuven

Bosman

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Masyarakat Ulupungkut Tidak Mungkin Bergerak Sendiri

  1. Parlaungan Lubis berkata:

    Saudara Bosman Batubara
    Kelanjutan dari Masyarakat ulu pungkut ,tentantang keberadaan Perusahan Pertambangan atau sejenisnya /PT SMM
    Pada tanggal 3 Septtember 2011.kami dari pihak adat Raja-Raja (Bagas Godang) yang terdiri dari 10 Desa di ulu pungkut yaitu:
    1.Hutagodang ;Mangaraja Honggara Lubis
    2.Habincaran : Sutan Baringan Lubis
    3.Hutapadang : Mangaraja Parlindungan Lubi
    4.Alahankae :Hamsar Lubis
    5.Simangambat Patahajang:Sutan Paruhuman Lubis
    6.Simpang Duhu Lombang :Mangaraja Sori Muda Lubis
    7. Muarasaladi Patahajang:Sutan Sori Alam Lubis
    8.Simpang Duhu Dolok :Mangaraja Parlagutan Lubis
    9.Tolang : Baktar Lubis
    10.Simpang Pining :Sutan Bongsu Lubis

    Menolak penjualan tanah diwilayah tanah adat Ulu pungkut yang nota benenya untuk pertambangan dan sejenisnya.
    Dan ini juga merupakan bentuk pelecehan terhadap masyarakat adat di wilayah ulu pungkut,
    yang telah beratus tahun berdomisil di wilayah ini .bahwasanya sebelum NKRI ini ada kami telah ada disitu.
    Catatan sejarah Kemerdekaan RI bahwa Leluhur kami lah yang memengal kepala penjajah Belanda Di Sipalupuk Hutarimbaru yang sekarang rambutnya masih diikat di tombak
    yang disebut tombak na Marjanggut.
    Kami sebagai generasi penerus bangsa dari Bagas Godang ingin mengisi pembangunan dinegeri ini yang lebih beradad dan beradat,
    yang terjadi seolah olah masyarakat adat sudah ditiadakan di negeri ini.dengan munculnya PT SMM yang katanya mendapat ijin penambangan dari Pemerintah.Kami tidak pernah menjual ataupun memperkarakan tanah wilayah adat kami.?
    Sudah seburuk inikah negara ini,?tanpa memperdulikan hak rakyat dan adatnya yang telah turun temurun berada dikawasan tersebut,
    Kami siap bahu membahu dengan anda khususnya generasi muda madina dan seluruh kekuatan masyarakat dan pemerintah untuk
    menolak Keberadaan PT Mas Mining Di bumi Madina.
    Ulu Pungkut Untuk Ulu Pungkut ,Madina untuk Madina Horas.. Merdeka Indonesia untuk Indonesia
    bukan untuk PT Mas Mining.

    Parlaungan Lubis asal Desa Murasaladi Patahajang Ulu Pungkut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s