Kisah Penolakan Tambang Emas (Bagian 1) Warga Huta Godang Muda Tak Bisa Minum Air Bersih

Mandailing Natal  | Selasa, 7 Jun 2011
Roby Karokaro

SUASANA di Desa Huta Godang Muda, Kecamatan Siabu Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut), hingga Senin (6/6), masih mencekam pasca-bentrokan antara warga dengan anggota Brimob Kompi C Mapolresta Tapanuli Selatan, pada Minggu (29/5). Warga menolak eksplorasi tambang emas dilakukan oleh Perusahaan Tambang Mas PT Sorik Mas Maining, yang berada di Kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG).

Protes warga berujung tertembaknya Sholat Batubara (20) warga Huta Godang Muda, membuat warga mengamuk dan membakar barak perusahaan serta merusak fasilitas kantor. Selain Sholat, seorang perwira polisi, juga terluka karena hantaman pukulan pengunjuk rasa.

Protes warga dianggap cukup beralasan. Selain eksplorasi tambang dilakukan di lahan negara, dampak dari eksplorasi itu juga menyebabkan perusakan lingkungan. Wakil Kepala Desa Huta Godang Muda, Syarifuddin Lubis, kepada Jurnal Nasional, mengatakan akibat eksplorasi dilakukan oleh PT Sorik Mas Maining, Sungai Aek Garut, satu-satunya sumber air yang biasa digunakan warga untuk diminum dan kebutuhan sehari-hari saat ini sudah tidak lagi dapat dipergunakan.

Penyebabnya, penggunaan bahan kimia untuk eksplorasi tambang emas tersebut, mencemari aliran sungai. Kejadian tersebut sudah berlangsung sejak 1998. Dampak ini sedikit banyak membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih. Sehingga terpaksa membuat sumur air baru atau kembali menggunakan sumur bor yang sebelumnya sudah lama mereka tinggalkan.

“Rasa air sedikit asam dan sepat. Kami duga berasal dari eksplorasi tambang itu,” jelasnya.

Masalah tersebut sebenarnya sudah mereka sampaikan kepada Pemkab Madina. Namun solusi yang diberikan pemerintah setempat adalah mencari sumber mata air baru.

Solusi ini tidak begitu bermanfaat bagi warga, karena sumber mata air baru itu terletak jauh dari pemukiman mereka. Sejak saat itulah gejolak protes dan penolakan eksplorasi terjadi.

Dampak akibat eksplorasi tersebut, empat desa tidak lagi bisa mengonsumsi air bersih, dan hasil panen kebunnya menurun drastis. Empat desa yang paling merasakan dampak eksplorasi tambang emas tersebut, adalah Desa Aek Garut, dengan jumlah warga yang bermukim sebanyak 118 KK. Di Desa Tanjung Sialang terdapat 250 KK, Desa Huta Godang Muda terdapat 600 KK, dan Desa Muara Batang Angkola warga yang bermukim sebanyak 200 KK.

Selain tercemarnya sumber mata air, hasil panen kebun warga juga jauh berkurang. Syarifuddin contohnya. Hasil panen kebun cokelatnya terus menurun setiap tahun. Dua tahun terakhir dirinya hanya bisa memanen cokelat 50 kilogram (kg) setiap 10 hari. Angka ini terus menurun. Bahkan dalam setahun terakhir, dirinya cuma bisa memanen cokelat seberat 10 kg setiap 10 harinya. Warga juga menyesalkan sikap perusahaan yang dianggap tidak memberikan bantuan dana pembinaan pada masyarakat sekitar.

“Sudah melakukan penambangan di areal hutan lindung, tanggung jawab perusahaan atas pencemaran air dan dampak lainnya seperti menurunnya hasil kebun, dibiarkan saja. Ini namanya mau enaknya,” katanya. n

sumber: http://nasional.jurnas.com/halaman/2/2011-06-07/172230

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kisah Penolakan Tambang Emas (Bagian 1) Warga Huta Godang Muda Tak Bisa Minum Air Bersih

  1. cinta_damai berkata:

    Sdr Roby kalau anda membuat tulisan seharusnya yang obyektif, bukan pesanan!!
    jangan memutarbalikan fakta. Kamp Sorikmas dibakar bukan akibat tembakan aparat tetapi memang masyarakat sdh membawa bensin yang sdh dikumpulkan beberapa hari sebelumnya dan berniat membakar kamp akibat provokasi dari para elit kampung dan luar kampung. Sorikmas melakukan eksplorasi sudah seijin negara yang ditandatangani Presiden karena berupa ijin Kontrak Karya bukan KP atau IUP (silakan cek di departemen pertambangan). Sorikmas belum melakukan penambangan jadi tidak ada yang dicemarkan, sedangkan bahan2 pemboran seperti polymer terbuat dr bahan yang ramah lingkungan dan tidak beracun dengan standar internasional, bisa dibuktikan secara ilmiah!. Silakan buktikan secara ilmiah kalau sungai sdh tercemar dengan mengambil sampel air untuk dianalisa juga tanah yang katanya tanaman jadi tidak subur apa penyebabnya, jadi jangan memfinah. Lalu bagaimana dengan maraknya penambangan liar di Hutabargot yang jelas2 mencemari lingkungan, mana tulisan dan suara anda?? Saya sendiri sekarang takut makan ikan dari Panyabungan bukan karena Sorikmas tetapi dari pencemaran gelondong yang bertebaran di Panyabungan sampai Hutabargot.
    Mari kita tegakkan keadilan dan kebenaran dengan fakta bukan isu atau fitnah oleh segelintir orang yang tidak bertanggungjawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s