Disepakati Grand Design Solusi Konflik

Nasional Sabtu, 06 Agt 2011 07:53 WIB
Konflik Warga-Sorikmas
MedanBisnis – Medan. Konflik antara warga Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dengan PT Sorikmas Mining (SMM) mulai menemui titik terang penyelesaian. Tim Pencari Fakta (TPF) Konflik Warga-Sorikmas DPRD Sumut dan PT Sorikmas serta Pemkab Madina sepakat membuat grand design untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

Hal tersebut mengerucut dalam pertemuan TPF dengan PT SMM dan Pemkab Madina, di Gedung DPRD Sumut, Jalan Diponegoro, Medan, Jumat (5/8). Hadir dari pihak TPF, Ketua Eddi Rangkuti, anggota Amsal Nasution, Tiaisah Ritonga, Rahmianna Delima Pulungan, Pasiruddin Daulay, Mulkan Ritonga dan Zulkfili Siregar.

Dari PT SMM, antara lain GM Bussines Development Paul G du Plessis, Director Corporate Affair Arif Firman, Manager Corporate Affair Bahtiar, Senior Geologist Irwanto, Nurul Fazrie dan Yupi Imamsyah. Pemkab Madina diwakili Asisten Pemerintahan Syahnan Pasaribu.

Kesepakatan grand design solusi konflik antara warga sekitar dengan perusahaan pertambangan emas itu diputuskan setelah Ketua TPF Eddi Rangkuti menanyakan apakah pihak PT SMM bersedia “berdamai” dengan masyarakat, termasuk mendukung pencabutan atau penangguhan enam warga yang ditahan di Mapolres Madina, menyusul pembakaran base camp milik perusahaan, tanpa melanggar hukum yang ada.

Director Corporate Affair Arif Firman menjawab bersedia dan berniat membebaskan keenam warga yang ditahan, termasuk menjalin hubungan yang lebih sinergis dengan masyarakat. Niat itu, lanjutnya, sangat didukung perseroan selagi tidak melanggar dari sisi ketentuan hukum yang berlaku.

Tiaisah Ritonga dan Amsal Nasution kembali mempertegas apakah pihak Sorikmas bersedia tanpa unsur paksaan untuk membuat perdamaian dengan masyarakat, lagi-lagi Arif Firman menjawab bersedia.

Arif menyebutkan tidak sedikitpun pihaknya berniat melaporkan warga ke kepolisian. Laporan mereka hanya soal pengrusakan sehubungan dengan aksi pembakaran base camp yang terjadi di Desa Hutagodang Muda, Kecamatan Siabu, Madina, 29 Mei 2011.

“Pada dasarnya kami hanya ingin agar tuntutan kami, yakni dapat melanjutkan eksplorasi ke tahap feasibility study dan eksploitasi bisa dilanjutkan. Kalaupun pun ada tuntutan masyarakat ke perusahaan, kami bersedia untuk mencari solusi terbaik,” jelas Arif.

Arif kemudian bertanya kepada TPF soal langkah-langkah lebih lanjut menyangkut perdamaian itu. Menurut Eddi Rangkuti, masalah itu sudah masuk dalam hal teknis yang tidak mungkin dibuka dalam rapat.

“Yang penting ada niat dari Sorikmas. Soal bagaimana nanti teknisnya, kita sudah punya gambaran. Karenanya, mari kita dukung untuk mencari solusi terbaik,” sebutnya.

Syahnan Pasaribu mengingatkan Sorikmas harus menggarisbawahi perlunya komitmen penyelesaian permasalahan yang ada. Dia mengaku sudah lelah memfasilitasi perdamaian dengan masyarakat, sebab dari pihak Sorikmas sendiri, semisal para pemangku kepentingan selalu berganti. Sehingga karena kerap ada pergantian pejabat di Sorikmas, mengakibatkan lambannya penyelesaian masalah.

“Kita sebelumnya sudah sepakat dengan si A dari Sorikmas untuk menyelesaikan masalah, lantas kemudian diganti dengan orang baru yang harus belajar dari awal memahami permasalahan. Ini memperlambat penyelesaian. Karenanya, kami minta dalam grand design ini agar orang-orang yang ditunjuk nantinya tidak berganti-ganti,” tegas Syahnan.

Anggota TPF, Mulkan Ritonga, mengungkapkan, sebelum rapat, pihaknya juga melakukan pertemuan dengan perwakilan warga dan sepakat dengan apa yang diusulkan dewan.

Aksi penolakan keberadaan PT SMM sudah beberapa kali dilakukan warga dari sejumlah desa dan kecamatan di Madina. Selain karena dituding merusak lingkungan, perusahaan itu juga dinilai kurang peduli kepada warga sekitar pertambangan.

Misalnya, permintaan warga Desa Hutagodang Muda agar PT SMM memberikan ganti rugi lahan seluas 2 hektar per KK, beasiswa, pembangunan jalan pertanian dan bantuan modal usaha belum juga direalisasikan pihak perusahaan.

Kemarahan warga puncaknya terjadi saat unjuk rasa ribuan warga Desa Hutagodangmuda menolak kehadiran PT SMM, 29 Mei, yang berakhir bentrok. Seorang warga, Solatiah (20), tertembak oleh personel Brimob Kompi C Tapsel.

Akibat penembakan itu, warga marah dan mengamuk dengan membakar base camp PT SMM di Pebukitan Tor Sihayo, salah satu lokasi pertambangan perusahaan asing itu. Sejumlah warga ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. (benny pasaribu)

sumber: http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/08/06/49182/disepakati_grand_design_solusi_konflik/#.Tpp3zHKBZTc

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s