Penolakan Sorikmas Mining: Warga Madina yang Dikhianati Pemimpinnya

Setelah sekitar setengah tahun bekerja, seperti yang sudah diduga, akhirnya pada tanggal 17 November 2011 yang lalu Panitia Khusus (Pansus) DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dalam kasus pembakaran basecamp PT Sorikmas Mining (SM), selanjutnya akan disebut Pansus dalam tulisan ini, mengeluarkan 5 rekomendasi. Dari kelima butir rekomendasi itu, nyata sekali terlihat bahwa Pansus sama sekali tidak menyerap aspirasi yang berkembang di kalangan warga.

Kelima rekomendasi itu adalah. Pertama, kepolisian dan Pemkab Madina untuk meningkatkan upaya deteksi dini agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Kedua, mencari aktor intelektual dalam insiden itu. Ketiga, Pemkab dan PT Sorikmas Mining bekerja sama melakukan sosialisasi soal keabsahan keberadaan perusahan tambang emas itu kepada masyarakat luas. Keempat, terkait dampak sosial maupun lingkungan yang mungkin timbul sebagai akibat dari kegiatan investasi Sorikmas, serta optimalisasi tanggung jawab sosial terhadap masyarakat local [sic], dan, kelima perluasan konstribusi Sorikmas untuk pembangunan daerah (medanbisinisdaily.com,  18/11/2011).

Kalau kita cermati landasan berfikir yang ada di balik kelima rekomendasi Pansus tersebut, maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa secara prinsip mereka menerima keberadaan PT SM di wilayah Kabupaten Mandailing Natal. Hal ini bertolak belakang dengan sikap warga yang jelas-jelas menolak keberadaan PT SM. Sikap penolakan ini kembali terdengar dari 9 Kecamatan di Kabupaten Madina pada bulan Juli yang lalu (suarakomunitas.net, 18 Juli 2011), yang kembali dipertegas oleh perwakilan masyarakat Kecamatan Ulupungkut pada bulan Oktober yang lalu (www.medanbisnisdaily.com, 31/10/2011). Dalam berita yang sama dicantumkan juga keluhan warga Kecamatan Ulupungkut yang menyatakan bahwa tidak ada kunjungan lapangan yang dilakukan oleh Pansus.

Dengan demikian, tidak ada lagi alasan bagi masyarakat Madina yang menolak PT SM untuk mempercayai DPRD-nya sendiri. Terbukti dalam kasus ini, kelima poin rekomendasi yang disampaikan oleh Pansus tidak menyinggung sedikitpun aspirasi yang berkembang di kalangan warga. Di satu sisi, rekomendasi secara implisit menerima kehadiran PT SM tanpa ada satu poinpun yang menyebutkan perlunya evaluasi bagi keberadaan perusahaan tersebut di Kabupaten Madina, sementara di sisi lain, kelompok masyarakat yang saya sebutkan di atas secara eksplisit menolak keberadaan PT SM.

Bagaimana dengan Bupati terpilih? Sikapnya setali tiga uang dengan Pansus. Meski pada hari pertama setelah pelantikan, Bupati Terpilih, Hidayat Batubara, menjanjikan akan menyelesaikan konflik warga dengan PT SM di hadapan ratusan tokoh masyarakat dan pemuda (apakabarsidimpuan.com, 30/6/2011), belakangan kenyatan berbicara lain. Bupati terpilih, kali ini melalui wakilnya, Dahlan Hasan Nasution, malah meminta agar warga jangan mengganggu aktivitas PT SM (www.medanbisnisdaily.com, 4/11/2011).

Pernyataan Wakil Bupati ini, bagi saya, membuat saya jadi tahu dimana sebenarnya Bupati Hidayat Batubara berdiri dalam kasus PT SM. Dalam sebuah kesempatan berdiskusi dengan tim suksesnya via facebook, saya pernah menanyakan bagaimana sikap pasangan Hidayat-Dahlan terhadap PT SM. Ketika itu si tim sukses tidak memberikan jawaban, seolah takut bersikap, atau mungkin pada saat itu mereka memang tidak punya sikap.

Tadinya saya berharap banyak kepada Bupati Hidayat Batubara ini dalam kasus PT SM, karena saya tahu Bapaknya, Haji Maslin Batubara berasal dari Desa Alahankae, sebuah Desa yang terletak di hulu Desa saya kalau kita jadikan Batang Pungkut sebagai acuan. Dalam pikiran saya pada waktu itu, tentu saja Hidayat akan berfikir seribu kali soal PT SM, karena kalau tambang dibuka di Gunung Kulabu, maka Desa Alahankae akan terlebih dahulu kenda dampaknya daripada Desa saya.

Ternyata harapan tinggallah harapan. Hidayat, yang dibesarkan di Kota Medan karena Sang Bapak berdomisili di sana sebagai pengusaha, tampaknya sudah tidak punya keterikatan batin dengan masyarakat Kecamatan Ulupungkut, di kecamatan mana Desa kami berada. Saya bisa katakan demikian, karena pada saat masyarakat Kecamatan Ulupungkut sekarang menjadi satu-satunya kecamatan yang secara konsisten menyuarakan penolakan, justru salah satau putra terbaiknya yang duduk di tampuk kekuasaan, malah mengambil jalan yang berseberangan dengan warga. Apa boleh buat Hidayat, bagi saya Anda tak lebih dari orang Medan sekarang. Maap. Saya hanya tinggal berharap suatu ketika saya masih memiliki energi untuk menulis surat personal kepada Anda. Sebab, praktis hanya itulah yang bisa saya lakukan sekarang.

Di lapangan, pasca penembakan terhadap Solatiah Batubara pada insiden di Desa Hutagodang Muda, Kecamatan Siabu, PT SM terus beroperasi. Dengan manisnya di laporan mereka edisi 30 September 2011 disebutkan “As part of our ongoing community program we took 15 local representatives on a site visit to a newly commissioned gold mine in North Sulawesi, Indonesia in mid-September, to show them first-hand the operational, environmental and community aspects of a mine of similar size to our planned SPGP.” [Sebagai bagian dari program kami untuk komunitas yang sedang berjalan, kami menyertakan 15 orang pemimpin lokal pada kunjungan ke sebuah tambang emas di Sulawesi Utara pada pertengahan Spetember ini, untuk memperlihatkan langsung kepada mereka bagiamana aspek lingkungan dan komunitas tambang dengan skala yang mirip seperti yang kami rencanakan beroperasi].

Akan tetapi, tentu saja, tidak disebutkan dalam laporan itu bahwa kunjungan yang di kalangan warga diistilahkerenkan dengan Studi Banding tersebut sempat dituntut oleh warga Kecamatan Naga Juang agar dibatalkan. Karena prosesnya juga tidak transparan. Warga baru tahu bahwa Kepala-kepala Desa mereka akan berangkat ke Sulawesi Utara ketika ada salah seorang Kepala Desa yang menolak Studi Banding  membocorkannya kepada warga. Segera rapat desa diadakan, dan terbangunlah komitmen bahwa Kepala-kepala Desa menolak Studi Banding. Akan tetapi, selang waktu, 5 orang Kepala Desa merubah pendiriannya (beritasumut.com, 10/9/2011).

Pengelitan pemimpin dari massanya, seperti yang dilakukan oleh PT SM dengan kedok Studi Banding seperti ini, adalah sebuah modus konvensional pemecah-belahan gerakan warga. Saya bisa membayangkan betapa silaunya para Kepala Desa ketika ditawari berangkat ke Sulawesi Utara. Tanpa bermaksud menyepelekan mereka dan saya minta maap kalau mereka tersinggung, tetapi orang kampung mana sih yang tidak tergiur dengan perjalanan ke pulau lain seperti itu? Buktinya mereka begitu saja menerabas kesepakatan yang sudah dibangun dengan warganya.

Tampaknya memang perjuangan penolakan PT SM di Kabupaten Madina ini masih akan berjalan panjang. Pada fase ini, warga sudah dikhianati oleh para pemimpinnya. Legislatif sudah tidak bisa diharapkan, Bupati dan wakilnya sudah menyatakan sikapnya dengan jelas, beberapa Kepala Desa (tampaknya) sudah terkooptasi, tinggallah kini warga Madina yang menolak masih dalam perjuangan bersama beberapa orang pemimpinnya yang masih setia.

Tetapi, tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan situasi ini. Dimana-mana, jangankan gerakan sosial, bahkan kehidupan dan hubungan asmarapun selalu bertabur kisah sedih pengkhianatan. Sebagaimana selalu saja lahir pemimpin baru yang lebih segar dan bertenaga. Selamat berjuang kawan.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Penolakan Sorikmas Mining: Warga Madina yang Dikhianati Pemimpinnya

  1. Teruslah berjuang saudar-saudara ku

    PUISI SANG MANTAN

    BATANG GADIS

    Begitu indahnya alam ciptaan Tuhan
    Alam yang tidak pernah cacat
    Taman yang selalu kita rindukan
    Alam yang harus dijaga dan ditata
    Namun kini alam yang Tuhan titipkan pada kita hampir cacat, gundul dan porak poranda
    Gunung yang hijau menjadi merah
    Generasi penerusku mari kita kembalikan alam yang indah dan hijau seperti dulu
    Alam berjanji akan memberikan segala sesuatu yang kita perlukan bila kita melestarikannya
    Dia sang pencipta sungguh kecewa atas perbuatan-perbuatan manusia yang tak bertanggung jawab
    Itu sebabnya kita menyadari dan bekerjasama Seperti yang Tuhan titahkan pada kita
     
     
     
    Karya : St. J. Hutapea Desa Robean Kec. Purbatua-Tapanuli Utara 

  2. monang ringo berkata:

    Kepada kawan kawan di Mandailing, mari kampanyekan Poda na 5 itu, utamanya paias Roham, agar pmpinan di Madina paham betul untuk siapa mereka menjadi pemimpin yang di titipkan oleh Tokoh agama, adat ( hatobangon ).
    bejuanglah terus membangun kekuatan bersama Hatobangon dan alim ulama. untuk mengusir PT SMM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s