Mandailing Natal Seharusnya Belajar dari New York

Pernyataan Menteri Kehutanan (Menhut), Zulkifli Hasan, baru-baru ini bahwa pihaknya sudah pasrah dalam memperjuangkan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) dan akan melaksanakan Putusan Mahkamah Agung (MA) No.29/P/HUM/2004 tanggal 17 September 2008 tentang pembatalan status TNBG, tentu saja mengagetkan banyak pihak, termasuk penulis. Selama ini Menhut adalah salah satu pihak yang dapat diharapkan untuk menahan laju PT Sorikmas Mining (PT SM) dalam melakukan eksplorasi—dan besar kemungkinan selanjutnya eksploitasi—di areal hutan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) ini. Tulisan ini tidak menyoal Putusan MA dan kepasrahan Menhut lebih jauh, tetapi akan menilik permasalahan sebagai konsekuensi Putusan MA dan kepasrahan Menhut tersebut.

Kedua area kontrak karya (KK) PT SM, baik yang di blok selatan di sekitar Gunung Kulabu Kecamatan Ulupungkut seluas 24.300 ha, maupun yang di blok utara di daerah Tor Sihayo seluas 41.900 ha, adalah area tangkapan air (catchment) bagi Sungai Batang Gadis (SBG), bentang alam yang menghubungkan hampir semua desa dan kota (termasuk Panyabungan, ibukota Kabupaten Madina) ke dalam sebuah sistem ekologi. Kalau kita mencermati foto udara, maka akan gampang sekali terlihat bahwa kampung-kampung di Kabupaten Madina berjejer mengikuti aliran utama dan anak-anak SBG.

Berdasarkan data yang dirilis oleh LSM Bitra pada pertengahan tahun 2010, maka diketahui bahwa nilai ekonomi jasa ekosistem (ecosystem services) akibat kehadiran SBG yang melayani 413.00 jiwa yang hidup di 386 desa pada 23 Kecamatan di Kabupaten Madina mencapai Rp. 490.5 milyar per tahun.

Angka ini didapatkan dari dua fungsi hutan di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) BG. Fungsi pertama sebagai pencegah banjir, erosi dan tanah longsor. Artinya, apabila tidak ada hutan ini, maka Pemda Madina harus mengeluarkan uang sebanyak Rp. 225 milyar per tahun untuk mengatasi permasalahan banjir, erosi dan tanah longsor. Fungsi kedua berupa insentif dari hutan di daerah TNBG dari sektor hasil hutan non-kayu (karet, rotan, kopi, kayu manis, sarang burung walet, aren dan durian), potensi ekowisata, daerah aliran sungai, simpanan karbon dan keanekaragaman hayati, yang secara total menghasilkan angka sebesar Rp. 265,5 milyar per tahun.

Sementara, apabila tambang PT SM beroperasi, maka angka penghasilan yang diharapkan relatif rendah yaitu pada kisaran Rp. 121,3 milyar per tahun. Alias tidak sampai sepertiga dari nilai ekonomi jasa ekosistem yang ada sekarang.

Dalam berbagai perdebatan yang muncul, memang ada argumen dari kalangan yang pro dengan kehadiran PT SM bahwa perusahaan tambang yang komposisi kepemilikan sahamnya 75% di bawah kepemilikan Sihayo Gold Limited (SGL), sebuah perusahaan tambang yang berbasis di Australia, dan sebanyak 25% sisanya di bawah kepemilikan PT Antam ini, tidaklah seluruhnya berada di areal TNBG. Hal ini memang betul, karena hanya sekitar 31% dari areal TNBG yang bertampalan dengan area KK PT SM (Kompas, 5/12/2011).

Akan tetapi, selangkah dari luas area yang bertampalan tersebut, yang perlu diketahui juga adalah bahwa area yang diincar PT SM berada di jantung tangkapan air SBG. Artinya, kalau kedua area ini dibuka, maka keseluruhan eksosistem DASBG akan terkenda dampaknya.

Dan yang tak kalah penting untuk dicermati adalah bagaimana selama ini warga di Kabupaten Madina mencukupi kebutuhan airnya. Di daerah Kecamatan Ulupungkut, darimana penulis berasal, warga biasanya mendapatkan air minum dari mata air atau air tanah melalui sumur-sumur yang mereka gali. Bagi orang yang mendalami permasalahan hidrogeologi, meskipun untuk lebih detil perlu dilakukan studi kasus, akan cepat tahu bahwa secara teoritis ketika sebuah daerah hulu terganggu, maka daerah hilir sebuah cekungan sungai juga akan terganggu.

Penjelasannya simpel. Setiap tetes air yang mengalir di SBG pada dasarnya berasal dari air hujan yang kemudian terfragmentasi. Ada yang terus mengalir di permukaan membentuk aliran permukaan (overland flow), ada fragmen yang menginfiltrasi masuk ke lapisan soil membentuk interland flow dan seterusnya mengalir ke aliran terdekat, dan terakhir fragmen air yang mengalami perkolasi dan masuk ke aquifer (batuan sarang) membentuk baseflow. Pada umumnya, soil dan batuan melakukan penyaringan terhadap air hujan sehingga menjadi lebih bersih. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa air sungai, mata air dan air tanah, berasal dari sumber yang sama: air hujan. Memang ada bagian tubuh air dalam siklus hidrologi yang merupakan air berumur tua yang terperangkap dalam batuan sarang, tetapi dalam kasus air minum, diskusi ini tidak akan sampai ke sana.

Jadi, kebutuhan air warga seperti disebutkan di atas, baik itu dari sumur-sumur mereka ataupun dari mata-mata air, pada dasarnya berasal dari air hujan, terutama di daerah hulu. Kata lain dari paparan di atas adalah, konversi TNBG menjadi wilayah tambang pada dasarnya adalah tindakan memancing krisis air di Kabupaten Madina, terutama di kampung-kampung dimana warga sangat tergantung pada pasokan air alami.

Dilema seperti ini sebenarnya bukan barang baru di dunia ini. Salah satu kasus yang mungkin darinya Pemkab Madina dapat memetik pelajaran adalah kasus suplai air minum untuk Kota New York (NY), Amerika Serikat (AS).

Air minum di NY secara hidrologis disuplai dari dua buah area tangkapan air yaitu Delware dan Croton. Pada tahun 1997 Pemerintah Kota NY melalui Depertemen Perlindungan Lingkungan memutuskan untuk menjadikan kedua daerah tangkapan air ini sebagai daerah yang dilindungi dan perlu direstorasi. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan pentingnya arti kawasan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hampir 5 milyar liter air per hari untuk Kota NY, terutama dalam isu yang berhubungan dengan kualitas air.

Tinimbang membangun instalasi penyaringan air baru yang memakan biaya sebesar 6-8 milyar Dollar Amerika (USD) dengan biaya operasional sebanyak 300 juta USD per tahun, pemerintah New York memutuskan melindungi dan merestorasi kedua area tangkapan air meskipun mereka harus mengeluarkan biaya restosari sebesar 1,2 milyar USD untuk sepuluh tahun dan biaya pemutakhiran infrastruktur purifikasi air sebanyak 270 juta USD.

Dari sini, dua pelajaran yang dapat kita petik adalah, pertama, bahwa proteksi daerah tangkapan air bukanlah semata sebuah usaha perlindungan terhadap lingkungan, tetapi ia juga mendatangkan insentif ekonomi relatif bagi manusia berupa nilai jasa ekosistem (Ernst, 2004). Kedua, pemerintah melindungi warganya karena kalau biaya purifikasi air naik, maka secara terdistribusi biaya itu akan dibebankan pada warga.

Kasus TNBG sebenarnya setali tiga uang dengan kasus NY. Di AS, ada daerah tangkapan air Delware dan Croton dengan Kota NY di bagian hilir. Di Madina, ada daerah tangkapan air Tor Sihayo dan Gunung Kulabu dengan Kota Panyabungan dan banyak desa di bagian hilir. Hanya saja keduanya tampaknya memiliki nasib yang bertolak belakang.

Di NY pemerintah mencanangkan program perlindungan dan restorasi dengan kalkulasi ekonomi yang matang dengan tujuan akhir perlindungan bagi warga. Di Kabupaten Madina, melalui Putusan MA dan sikap pasrah Menhut, pemerintah melakukan pemborosan dengan menafikan nilai ekonomi jasa ekosistem dan, sebenarnya, pada saat yang bersamaan mendesain sebuah krisis air bagi warganya. Tapi, siapa yang peduli?

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

4 Balasan ke Mandailing Natal Seharusnya Belajar dari New York

  1. Martua P Lubis berkata:

    Mari bersatu Selamatkan Hutan (TNBG) agar hutan menyelamatkan kita…….

  2. John purba berkata:

    Pemerintahn negera ini bukn pmerintah yg mementingkn rakyatnya tp mnyelamatkn kluarganya sendiri aja. Apa yg mau dlakukan, demo, aksi hukum, atw apa lagi? Kyaknya sia-2 aja. Maka pilih org yg memerinth dgn tindakkn nyata dn tlh truji hatinya.

  3. arifsyahrijal berkata:

    Apa yang sahabat bosman katakan dalam tulisan ini sependapat dengan pikiran saya. Saya melihat ada tarikan kuat dari kutub ekopolitik yang mengontrol permasalahan ini. Kalau kita mau sedikit mencoba korelasi dengan keadaan ekonomi global sekarang ini, maka paling tidak ada benang merah yang bisa kita tarik.

    Mengapa explorasi emas diberikan izinnya? konon lagi kepada sebuah perusahaan yang berbasis di australia yang notabene adalah kerabat-kerabatnya AS. Karena emas menjadi Base Currency International disamping USD. Secara kasat mata kita dapat melihat bahwa Negara mana yang memiliki Emas paling banyak, maka currency dalam perdagangan intersional akan stabil bahkan cenderung naik, karena nilai tukar sebuah currency akan disandarkan pada berapa banyak devisa yang dimiliki oleh suatu negara, emas terutamanya.

    Nah, saya melihat pemerintah Indonesia, dalam hal ini ingin menyelamatkan Nilai Tukar Rupiah terhadap currency asing. Secara sederhana, dengan adanya explorasi di Madina, paling tidak akan menambah cadangan devisa emas Indonesia sebagai dasar penguatan Rupiah.

    Namun sayang sungguh sayang, yang terjadi adalah ” Ingin menangkap Punai yang Sedang Terbang, Merpati ditangan dilepaskan”. Pemerintah Indonesia ingin memiliki banyak cadangan emas, namun Perusahaan yang melakukan penambangan malah kepunyaan orang asing. Sebagaimana yang Bosman katakan diatas cuma 25% saham PT. Antam sebagai BUMN yang notabene kepunyaan Pemerintah Indonesia. Walhasil, bila terjadi eksploitasi besar-besaran nantinya, maka bukan hanya Pemerintah Indonesia yang kecolongan, rakyat Madina pun sebagai tetangga terdekat akan mengalami krisis air.

    Cukuplah Pengalaman PT. Freeport menjadi pelajaran bagi Bangsa Indonesia. jangan bertambah Freeport-freeport lainnya di Tanah pertiwi ini. biarkan alam yang indah ini memberikan hasilnya tanpa perlu merusaknya. Ingat, Sebuah bangsa yang maju, bukan ditentukan dari berapa banyak Sumber Daya Alam yang terkandung di buminya, Tetapi dari Kekayaan Intelektual pribadi-pribadi warga negara yang mengerti akan pentingnya arti sebuah kehidupan yang berpihak pada rakyatnya.

    Salam,

    Banda Aceh, 10 Januari 2011

    M. Arif Syahrijal
    Temannya Bang Bosman Batubara

  4. anto berkata:

    simpel aja.

    selagi mudhoratnya lebih banyak dari manfaatnya kepada masyarakat terutama bagi daerah yang langsung berhubungan dengan daerah yang diexploitasi maka tidak ada guna untuk melanjutkan program ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s