Posisi Peneliti: Kasus Sorikmas Mining dan Lumpur Lapindo

Pada akhir Januari di tahun 2013 melalui facebook Batang Pungkut Green Conservation (BPGC) memberi tahu saya bahwa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menurunkan penelitinya ke Kabupaten Mandailing Natal (Madina) untuk melakukan kajian persepsi masyarakat tentang tambang. Tim tersebut terdiri dari 4 orang peneliti LIPI, mereka adalah: 1) Dra. Tri Nuke Pudjiastuti; 2) Dr. Maxensius Tri Sambodo; 3) Drs. Mochammad Nadjib; dan 4) Dr. Ahmad Helmy Fuady. BPGC berharap agar tim LIPI ini tidak melakukan rekayasa terhadap hasil penelitian. Dalam artian, BPGC yakin bahwa masyarakat di Madina, terutama di Kecamatan Ulupungkut yang menjadi basis BPGC menolak kehadiran perusahaan pertambangan di daerah ini, dalam hal ini adalah perusahaan tambang emas PT Sorikmas Mining (SM). Keyakinan BGPC ini saya pikir sangat masuk akal, karena beberapa tahun yang lalu, BPGC memobolisir warga di Kecamatan Ulupungkut yang kemudian menghasilkan kesepakatan penolakan yang ditandatangani oleh representasi warga Kecamatan Ulupungkut (kepala desa, ketua karang taruna, badan perwakilan desa, pengetua adat dan tokoh masyarakat lainnya).

Perlu saya jelaskan selanjutnya, BGPC adalah organisasi konservasi yang didirikan oleh anak-anak muda di Kecamatan Ulupungkut sebagai artikulasi dari sikap penolakan terhadap kehadiran PT SM. BGPC memiliki representasi di 13 desa yang ada di Kecamatan Ulupungkut. Saya sendiri terlibat aktif dengan kegiatan BPGC. Pada hari raya 2009 yang lalu kami memobilisir rapat warga di Hutanagodang (ibu kota kecamatan) untuk menyegarkan kembali semangat penolakan terhadap PT SM di kalangan warga Kecamatan Ulupungkut. Karena saya tidak tinggal di Ulupungkut, maka kemudian saya mengambil peran-peran yang  bisa saya lakukan, misalnya mengkampanyekan gerakan penolakan tambang lewat media sosial dan merubah laporan-laporan teknis PT SM ke dalam bentuk yang lebih mudah dipahami. Di sisi lain, kawan-kawan BPGC selalu saja memberi tahu saya setiap ada perkembangan signifikan dari apa yang terjadi di lapangan. Kehadiran peneliti LIPI di Madina seperti di atas, adalah salah satu contoh saja.

Selain lewat facebook, pemberitahuan itu juga dikirimkan kepada saya melalui e-mail yang langsung saya kirim ulang ke beberapa orang kolega, yang salah satunya berafiliasi dengan LIPI. Sedemikian hingga, pada akhirnya salah seorang peneliti yang tercantum dalam email BPGC tersebut (Dra. Tri Nuke Pudjiastuti, selanjutnya dalam tulisan ini akan disebut Ibu Nuke) memberikan email tanggapan atas reaksi dari BPGC tersebut. Demikian Ibu Nuke:

“…,telah kami buktikan bahwa hasil penelitian selama ini tidak memberikan keberpihakan kepada siapapun, meskipun itu kepada penguasa, tetapi berpihak pada fakta kebenaran data. Setelah penelitian kami selesai kami akan kirimkan hasilnya kepada saudara. Saudara akan bisa melihat bagaimana posisi keilmiahan masih kami junjung tinggi…,”

Meskipun sampai sekarang (Februari 2013) hasil penelitian itu belum juga saya (dan juga sepertinya juga kawan BPGC di Ulupungkut) ketahui, tetapi secara personal saya mengapresiasi tanggapan dari tim peneliti LIPI melalui Ibu Nuke seperti yang saya cuplik di atas.

Kembali ke awal, persoalan surat (saya sebut saja begitu) yang dikirimkan oleh BPGC tersebut beserta segenap kekhawatirannya yang kalau saya bahasakan ulang kira-kira akan menjadi “kami meragukan independensi pegiat ilmu pengetahuan dalam melakukan penelitiannya”, sangat dapat saya pahami. Mengapa? Dengan mengambil kasus Lumpur Lapindo, dimana saya terlibat lumayan dalam, bagian berikutnya tulisan ini akan berjuang untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Perdebatan soal penyebab Lumpur Lapindo sudahlah sangat panjang. Secara umum ada dua kubu, pertama kubu yang meyakini bahwa semburan Lumpur Lapindo disebabkan oleh kesalahan dalam pemboran sumur Banjar Panji-1 berupa tidak dipasangnya selubung pemboran sesuai dengan yang direncanakan, dan kedua, kubu yang membangun teori bahwa Lumpur Lapindo terjadi karena reaktivasi Patahan Regional Watukosek akibat adanya gempabumi Yogyakarta dua hari (27 Mei 2006) sebelum semburan lumpur terjadi.

Dari kedua kubu ini, dalam hubungannya dengan kekahawatiran BPGC seperti yang disebutkan di atas, maka yang paling relevan untuk dikaji dalam tulisan ini adalah afiliasi kelembagaan para pakar yang berada di kelompok kedua.

Artikel pertama yang menghubungkan bencana Lumpur Lapindo dengan gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006 berjudul Triggering and dynamic evolution of the LUSI mud volcano, Indonesia, yang dimuat di Jurnal Earth and Planetary Science Letters pada tahun 2007, ditulis secara kolaboratif oleh Mazzini, A., Svensen, H., Planke, S. and Malthe-Sǿrenssen, A., dan Istadi, B. Makalah ini membangun teori dan berusaha meyakinkan pembacanya bahwa penyebab terjadinya Lumpur Lapindo adalah gempabumi Yogyakarta pada tanggal 27 mei 2006. Apa yang bermasalah dengan artikel ini?

Kalau kita teruskan diskusi peranan peneliti seperti di atas, masalah terletak pada fakta bahwa salah satu penuli (Istadi, B.) berafiliasi dengan PT Energi Mega Persada (EMP), induk perusahaan PT. Lapindo Brantas Inc. (LBI). Demikian yang tertulis dalam keterangan lembaga afiliasi penulis artikel ini.

Contoh artikel kedua berjudul The LUSI Mud Volcano Controversy: Was it Caused by Drilling?, juga ditulis secara kolaboratif oleh Sawolo, N., Sutriono, E., Istadi, B.P. and Darmoyo, A., dan dipublikasikan di Jurnal Marine and Petroleum Geology pada tahun 2009. Artikel ini secara jelas juga menyatakan bahwa Lumpur Lapindo bukan disebabkan oleh pengeboran di sumur Banjar Panji-1.

Mengikuti logika tulisan ini, permasalahan pada artikel kedua ini juga terletak pada penulis dan afiliasi lembaganya. Sebagai tambahan terhadap Istadi, B.P., Sawolo, N. juga bekerja pada PT LBI dan dalam kasus Lumpur Lapindo sempat dijadikan sebagai tersangka oleh kepolisian Daerah Jatim karena diduga menyuruh pekerja lapangan tetap melanjutkan pengeboran gas kendati kondisi lapangan tidak memungkinkan hal itu dilakukan.

Berdasarkan pengalaman dalam kasus Lumpur Lapindo seperti di atas, maka kita bisa melihat sekarang bahwa kekhawatiran BPGC sangat beralasan. Pengetahuan tidaklah netral, atau dalam Bahasa Ibu Nuke yang dipetik di atas pengetahuan tidaklah “tidak memberikan keberpihakan kepada siapapun”. Setidaknya dalam kasus Lumpur Lapindo. Karena perlu juga kembali ditegaskan, ada banyak artikel tentang Lumpur Lapindo yang ditulisa oleh geosaintis yang tidak memiliki afiliasi dengan unsur PT LBI, dan disampaikan dengan argumentasi yang, setidaknya bagi saya, jauh lebih masuk akal.

Tentu saja yang harus juga jelas dalam tulisan ini, afiliasi para peneliti LIPI dengan PT SM tidaklah seperti posisi Istadi, B. dan Sawolo, N. dengan PT EMP dan PT LBI. Tetapi dalam zaman yang sudah sangat maju seperti sekarang, sebuah kecurigaan seperti yang disampaikan oleh BGPC sangatlah berarti sesuatu karena tidak ada jaminan bahwa para peneliti LIPI tidak memiliki koneksitas dengan PT SM. Bagi masyarakat Ulupungkut hal ini sangat penting karena gerakan penolakan terhadap PT SM bisa jadi menentukan hitam atau putih nasib warga Ulupungkut ke depan, sementara bagi para peneliti LIPI, surat BPGC juga penting untuk terus mengingatkan mereka tentang netralitas peneliti seperti yang, kembali meminjam istilah Ibu Nuke, tidak memberikan keberpihakan kepada siapapun kecuali pada fakta dan kebenaran data. Kalimat terakhir tentu saja mengasumsikan bahwa masih ada sesuatu yang tidak berpihak di atas dunia ini (kecuali pada fakta dan kebenaran data). Meskipun secara personal saya sudah tidak mempercayai itu lagi.

Pos ini dipublikasikan di opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s